
Saya pernah membaca sebuah buku karangan pemikir besar Islam, Ahmed Deedad. Judulnya (kalau saya tidak salah) Jangan Malu Memakai Atribut (simbol) Agama. Secara umum, buku tersebut berisi tentang bagaimana seharusnya setiap muslim dalam kesehariannya berani menggunakan atribut keislaman seperti peci, baju gamis, kerudung dan lain-lainnya untuk menunjukan bahwa ia muslim. Di luar itu, saya pikir hal yang sama tentu berlaku juga untuk pemeluk agama lain. Bagaimana seorang kristiani memakai misalnya kalung salib untuk menunjukan bahwa ia adalah seorang kristen yang taat.
Lantas apa hubungannya dengan judul tulisan di atas? Sangat dekat, Kita sebagai sekumpulan individu-individu yang telah memutuskan untuk sebisa mungkin menggunakan sepeda sebagai metode transportasi, sebenarnya berkewajiban untuk mengkampanyekan segala hal yang berhubungan dengan lingkungan, menggunakan berbagai atribut, tentu saja dalam konteks bersepeda. Saya masih ingat saat pertama bergabung di milis b2w jak-sel, om Adi mengirimkan balasan email saya dengan kata-kata ‘selamat bergabung di komunitas yang sehat ini’.
Wah, sesungguhnya sekelumit kata-kata itu jadi penyemangat saya juga untuk tetap ‘menggowes’ ke kantor atau kemanapun (terima kasih om :p). Namun agak sedikit naif bila hanya sekelumit kata-kata itu saja yang selalu mendorong semangat kita untuk beraktifitas, karena sebenarnya masih ada sebuah esensi besar dibalik aktivitas ‘ngegowes’ kita.

‘Mbah’ blogger Indonesia, Enda Nasution pernah mengatakan kepada saya, ‘umumnya, blogger merupakan seorang yang selalu membuka mata untuk sebuah perubahan positif dalam lingkungan sekitarnya’. Saya yakin, kita semua pasti setuju kalau para b2w’rs pun sama halnya dengan apa yang dikatakan oleh Enda. Karena itulah, melalui ‘tulisan jelek’ ini, saya berpendapat sudah saatnya kita bersikap semakin terbuka untuk sebuah perubahan positif bagi lingkungan.
Hal itu kita bisa lakukan dengan berangkat dari sebuah isu besar, atau tepatnya sebuah ancaman besar yang tak pernah bosan dibahas oleh siapapun, Global Warming. Hari Minggu kemarin, seorang aktivis lingkungan di Bundaran HI menerangkan kepada saya, bahwa secara matematis, bila manusia tidak merubah perilakunya ‘memusuhi alam’, umur bumi tidak lebih dari lima tahun lagi. Tentu saja saya tercengang (untuk kesekian kalinya). Ia pun memberikan sebuah buku yang berisikan fakta-fakta baru mengenai kerusakan alam, antara lain:
1. Hampir semua es di Kutub Utara akan lenyap pada akhir musim panas 2012! (prediksi dari Dr. H. J. Zwally –NASA). Pada 6 Maret 2008, sebuah bongkahan es hampir 1,5 kali luas kota surabaya, di Antartika runtuh, padahal menurut peneliti, diyakini bongkahan itu telah ada sejak 1500 tahun yang lalu. Sekarang, bongkahan es yang tersisa tinggal sekitar 13.000 kilometer persegi saja. Apabila seluruh es telah mencair, maka level permukaan laut akan naik sampai 7 meter! Cukup untuk menenggelamkan seluruh pantai dan dataran rendah manapun diseluruh dunia.
2. Mencairnya Methane Hydrates=kiamat!. Methane Hydrates merupakan kumpulan metana beku dalam jumlah yang sangat besar dan banyak ditemukan di Kutub Utara dan Selatan dimana suhu permukaan airnya kurang dari 0 derajat celcius. Metana adalah gas dengan emisi rumah kaca 23 kali lebih ganas dari karbondioksida.
Gawatnya, bila antartika kehilangan seluruh lapisan esnya, maka 400 miliar ton metana tersebut akan terlepas ke atmosfer! Sekali terpicu, siklus ini akan menghasilkan pemanasan global yang sangat parah, yang mungkin bisa disetarakan dengan kiamat!
Lebih gawatnya lagi, 1 juta kilometer persegi es abadi di Siberia seluas Perancis dan Jerman telah mencair pada 2005, padahal didalamnya terdapat sekitar 70 milyar ton metana beku. Dampaknya? Saya sendiri takut untuk membayangkan.
Masih banyak fakta-fakta lain yang saya yakin om dan tante pasti lebih tau dari saya. Kita semua pasti tidak mau bumi mengalami sejarah kelam geologi yang disebabkan karena kelalaian manusia. Untuk itulah, sebagai b2w’rs, sudah saatnya isu Global Warming kembali kita jadikan sebagai esensi utama dari aktivitas bersepeda kita. Namun dengan langkah-langkah yang praktis tentunya, agar aktivitas bersepeda kita juga semakin bermakna.
Seperti kata Ahmed Deedad, kita pun jangan malu untuk menggunakan atribut kampanye dalam menggowes. Berikan sebuah edukasi kecil ke masyarakat luas, seperti yang saya lihat di daerah Pos Pengumben. Seorang b2w’rs (tentu saja dengan logo b2w di sepedanya), memasang atribut seperti bendera yang bergambar asap hitam yang keluar dari kendaraan, tulisannya ‘karena inilah bumi lebih cepat mati’. Selain itu juga, di tas yang dia pakai di tempeli begitu banyak kertas putih berisikan pesan-pesan tentang kerusakan lingkungan. Yang dia lakukan untuk sebagian orang memang merupakan hal yang kecil, namun sungguh sangat bermanfaat.
Banyak cara lain yang bisa dilakukan juga, misalnya konvoi b2w mungkin bisa dilakukan sambil mengusung sebuah spanduk tentang Global Warming (tapi kalau sudah, maaf saya nggak tau, maklum baru..), atau dengan cara-cara yang lain. Begitu praktisnya bukan?..namun yang jadi masalah, sangat jarang saya melihat hal ini dilakukan oleh para b2w’rs, kecuali yang bersifat insidental seperti kampanye bersepeda bareng RI 1, karena hal-hal seperti itu tidak kontinues, jadi mudah dilupakan orang.
Saya pikir, cukup sampai disini saja, karena pengetahuan saya juga benar-benar terbatas. Makin panjang, takut makin banyak salahnya juga. Semoga dari ‘ketikan’ yang tak seberapa ini, dapat membuat kita untuk membuka mata sedikit lebih lebar lagi mengenai pemahaman kita mengenai esensi beraktifitas sebagai b2w’rs, untuk lingkungan yang lebih baik.
Seperti kata Enda..[]

kata mereka..